Macam-Macam Najis dan Cara Membersihkannya dalam Agama Islam

cara membersikan dan macam-macam najis dalam agama islam

Berbicara tentang macam-macam najis dan cara membersihkannya tidak terlepas dari kaidah islamiah. Terlebih lagi kita sebagai umat muslim dituntut untuk selalu menjaga kebersihan diri karena kebersihan merupakan sebagian dari iman. Bahkan pernah diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu'anhu tentang ancaman bagi orang yang tidak mau mensucikan diri selama hidupnya.

Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ أَمَا إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ لا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ

Artinya : “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melewati dua kuburan. Lalu beliau bersabda: “kedua orang ini sedang diadzab, dan mereka diazab bukan karena dosa besar. Orang yang pertama diadzab karena berbuat namimah (adu domba). Adapun yang kedua, ia diadzab karena tidak membersihkan diri dari sisa kencingnya”” (HR. Muslim no. 292)

Baca juga :  

Pengertian Najis

Najis atau Najasah secara bahasa dapat diartikan sebagai kotoran. Maka, jika diartikan secara harfiah yang termasuk kedalam najis adalah sesuatu yang dianggap kotor atau menjijikkan, misalnya air kencing, liur, ingus, kotoran hewan dan sebagainya. Dalam kitab Ar Raudhatun Nadiyyah (1/2) dijelaskan sebagai berikut :

النجاسات جمع نجاسة, و هي كل شيئ يستقذره أهل الطبائع السليمة و يتحفظون عنه و يغسلون الثياب إذا أصابهم كالعذرة و البول

Artinya : "Najasat adalah bentuk jamak dari najasah, ia adalah segala sesuatu yang dianggap kotor oleh orang-orang yang memiliki fitrah yang bersih dan mereka akan berusaha menjauhinya dan membersihkan pakaiannya jika terkena olehnya semisal kotoran manusia dan air seni"

Macam-Macam Najis dalam Agama Islam

Sedangkan menurut Syekh Salim bin Sumair Al-Hadlrami dalam kitabnya Safiinatun Najaa. Najis terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu najis mukhafaffah, najis mutawaddithah dan najis mughalladhah

 فصل النجاسات ثلاث: مغلظة ومخففة ومتوسطةالمغلظة نجاسة الكلب والخنزير وفرع احدهما والمخففة بول الصبي الذي لم يطعم غير اللبن ولم يبلغ الحولين والمتوسطة سائر النجاسات

Artinya : “Fashal, najis ada tiga macam : mughalladhah, mukhaffafah, dan mutawassithah. Najis mughalladhah adalah najisnya anjing dan babi beserta anakan salah satu dari keduanya. Najis mukhaffafah adalah najis air kencingnya bayi laki-laki yang belum makan selain air susu ibu dan belum sampai usia dua tahun. Sedangkan najis mutawassithah adalah najis-najis lainnya.”

Pengelompokan najis menjadi tiga kategori didasari oleh tingkat kesulitan cara mensucikannya. Adapun beberapa barang yang dianggap najis menurut masing-masing kelompok adalah sebagai berikut :
  • Najis Mukhaffafah, yaitu air kencing bayi laki-laki yang belum berumur dua tahun dan belum makan selain air susu ibunya
  • Najis Mutawassithah, diantaranya air kencing, kotoran, nanah, khamr, bangkai (selain manusia, ikan dan belalang), darah (kecuali hati dan limpa), sperma dan sebagainya.
  • Najis Mughalladhah, yaitu segala jenis anjing dan babi serta peranakannya.

Cara Membersihkan Najis

Cara membersihkan atau mensucikan najispun berbeda sesuai dengan kategori pengelompokan diatas. Berikut adalah ulasannya :

1. Najis Mukhaffafah (ringan)

Salah satu najir Mukhaffafah adalah air kencing bayi yang belum makan selain ASI, karena termasuk najis ringan cara mensucikannya cukup dengan memercikkan air. Percikan harus dengan kuat mengenai tempat najis, air yang digunakan pun harus lebih banyak dari najis.

Dari Abu Samh Malik radhiallahu’anhu, ia berkata:

يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ وَيُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الْغُلاَمِ

Artinya :  “Air kencing anak perempuan itu dicuci, sedangkan air kencing anak laki-laki itu dipercikkan” (HR. Abu Daud 377, An Nasa’i 303, dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa’i).

Adapula najis lain yang boleh disucikan dengan percikan air yaitu air madzi, Ali bin Abi Talib radhiallahu'anh berkata :

أرسَلْنا المِقْدَّادَ بنَ الأسودٍ إلى رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ،فسألَه عن المَذْيِ يَخْرُجُ مِنَ الإنسانِ كيفَ يَفْعَلُ به ؟ فقال رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : تَوَضَّأْ ،وانْضَّحْ فَرْجَكَ

Artinya : “Miqdad bin Al Aswad mengutusku kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Lalu aku bertanya mengenai madzi yang keluar dari seseorang, bagaimana menyikapinya? Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘berwudhulah dan percikkan kemaluanmu dengan air‘” (HR. Muslim 303).

2. Najis Mutawassithah (sedang)

Najis mutawassithah merupakan najis sedang. Cara mensucikannya dengan menghilangkan wujudnya terlebih dahulu, setelah tidak ada wujud, bau dan warna baru kemudian disiram. Sedangkan yang termasuk kedalam najis ini, meliputi darah, kotoran hewan dan manusia, bangkai, air kencing dan lain-lain.

Misalnya, ada kotoran ayam diteras rumah maka langkah yang harus diambil adalah membersihkan (membuang) kotoran ayamnya terlebih dahulu, jika dirasa sudah bersih barulah kemudian disiram menggunakan air atau sekedar dilap menggunakan kain bersih yang dicelupkan kedalam air.

Dalam Irsyad Ulil Bashair wal Albab li Naailil Fiqhi, 21. Syaikh As Sa'di menjelaskan :

“Najasah (mutawashitah) ketika ia bisa hilang dengan cara apapun, dengan alat apapun, maka itu sudah cukup untuk mensucikannya. Tanpa disyaratkan adanya jumlah bilangan dan tidak harus menggunakan air. Ini yang ditunjukkan oleh zhahir nash dalil-dalil. Karena syariat dalam hal ini hanya memerintahkan untuk menghilangkan najis. Dan najis itu terkadang hilang dengan menggunakan air, kadang dengan membasuhnya, kadang dengan istijmar (menggunakan batu, kayu atau semisalnya), dan terkadang dengan cara yang lain. Dan syariat tidak memerintahkan untuk menghilangkan najis sebanyak tujuh kali, kecuali najis anjing. Sebagaimana juga pendapat ini juga merupakan kelaziman dari nash dalil-dalil syar’i, karena pendapat ini memiliki kesesuaian yang tinggi dengan nash. Karena penghilangan najis itu adalah penghilangan sesuatu yang mahsuusah (bisa diindera)” ( Irsyad Ulil Bashair wal Albab li Nailil Fiqhi, 21)

3. Najis Mughalladhah (berat)

Jenis najis ini termasuk najis besar. Sedangkan cara mensucikannya haruslah dengan cara khusus yaitu dengan mengkombinasikan air dan tanah dalam jumlah tertentu. Hal ini menurut anjuran Rasulullah :

طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ، أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ

Artinya : “Cara mensucikan bejana dari seseorang di antara kalian jika dijilat anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali, cucian yang pertama menggunakan tanah” (HR. Al Bukhari no. 182, Muslim no. 279)

Secara rinci cara mensucikan najis Mughalladhah adalah sebagai berikut :
  • Hilangkan wujud najisnya terlebuh dahulu
  • Pada basuhan pertama, cuci bagian yang terkenan najis dengan air yang sudah dicampur tanah
  • Selanjutnya bilas menggunakan air biasa.
  • Perlu diperhatikan, dalam membasuh najis mughalladhah harus dilakukan sebanyak tujuh kali

Adapun beberapa cara pencampuran air dengan tanah adalah sebagai berikut :
  1. Campurkan air dan debu secara bersamaan kemudian letakkan pada tempat yang terkena najis.
  2. Letakkan debu ditempat yang terkena najis lalu memberikan air dan mencampurkannya
  3. Menuangkan air ketempat najis baru kemudian diberi debu atau tanah, lalu mencmpurkan keduanya.

Kesimpulan

Sebagai umat muslim hendaknya selalu memperhatikan kebersihan diri baik itu dari najis ringan, sedang maupun berat sesuai dengan syariat yang dianjurkan Rasulullah. Mengingat suci dari hadas kecil maupun besar merupakan salah satu syarat sah shalat. 

Post a Comment

0 Comments